Kamis, 09 April 2020

SAKIT ADALAH NIKMAT 1

SAKIT ADALAH NIKMAT 1



SAKIT ADALAH NIKMAT 1

🛫 Telah berlalu penjelasan tentang manfaat - manfaat sakit .


📝Beberapa uraian yang menunjukkan kepada kita bahwa penyakit yang menimpa ,
sakit yang dirasakan , dan kegalauan hati yang meresahkan itu semua
sejatinya adalah KENIKMATAN yang Allah berikan kepada seorang yang beriman.

💫 Bagaimana tidak , dengan sakit yang dialaminya seorang mukmin dapat
meraih keutamaan , pahala , dan kedudukan tinggi di sisi Allah .


🍹 Sungguh semua itu adalah kenikmatan tak ternilai bagi seorang mukmin yang
tidak ia dapatkan dari selain ujian sakit yang menimpanya .


✋ Meskipun sesungguhnya Allah maha tidak butuh untuk mengujinya atau
menimpakan kepadanya sesuatu yang menyakitkannya .


🌗 Namun hikmah ketetapan dan sifat rahmat Allah mengharuskan apa yang telah
ditakdirkan NYA .


🎉 Ketika hakikat dari sakit dan musibah adalah kenikmatan , sungguh orang -
orang salih merasa berbahagia dengan musibah yang menimpa mereka , seperti
bahagianya salah seorang diantara kita ketika mendapatkan kemudahan dan
kelapangan .


📙 Sebagaimana yang dikabarkan baginda Rasulullah tentang para nabi dan
orang-orang salih yang diuji dengan penyakit atau kefakiran atau yang
lainnya .


▪️Rasulullah - صلى الله عليه وسلم - bersabda ;
(( Sungguh salah seorang diantara mereka bergembira dengan ujian yang
menimpanya sebagaimana bergembiranya salah seorang diantara kalian dengan
kenikmatan yang dirasakan nya )) .
[ Dikeluarkan Ibnu Majah ( 2/ 1334 - 1335 ) ] .


🎙️ Berkata Wahab ibnu Munabbih - رحمه الله - :
" Sungguh orang - orang sebelum kalian apabila salah seorang diantara
mereka ditimpa bala' maka ia menganggap itu adalah sebuah kenikmatan , dan
bila ia merasakan kenikmatan maka ia menganggapnya adalah sebuah ujian " .


🎓 Berkata sebagian salaf : " Wahai anak Adam , sungguh kenikmatan yang
Allah berikan kepadamu pada perkara yang engkau benci LEBIH BESAR dari pada
kenikmatan yang Ia berikan pada perkara yang engkau sukai " .


📝 Wabillahit taufiq.


🌱 Semoga bermanfaat..
Baarokallahu fiikum .


✍️ Akhukum : Abu Abdillah Syukri - حفظه الله تعالى -


🗓️ Kamis , 15 Sya'ban 1441 / 09 April 2020 .


▪️ Sangatta - Kutim .


🛡️ MAJELIS TAKLIM QAULAN SADIIDA SANGATTA 🛡️

Rabu, 08 April 2020

MANFAAT SAKIT bagian 1

MANFAAT SAKIT bagian 1




💉 Sakit merupakan diantara ujian Allah bagi hamba - hamba NYA .

💫 Melalui ujian sakit itu Allah hendak menampakkan HIKMAH YANG BESAR dari
perbuatan NYA mentakdirkan sakit tersebut .

🌹Dan hendak menampakkan KASIH SAYANG & RAHMAT NYA yang MAHA LUAS bagi
hamba - hamba NYA .

🌀 Bila demikian hakikat yang sesungguhnya berarti SAKIT bukan membawa
BENCANA DAN PETAKA melainkan terkandung dibaliknya KEBAIKAN DAN MANFAAT
BAGI HAMBA .

✋Diantara manfaat sakit yang besar adalah dengan sakit yang diderita ,
seorang mukmin akan menampakkan satu ibadah mulia yang dicintai Allah .
Ibadah itu adalah KESABARAN DIKALA MUSIBAH DAN COBAAN .

▪️Allah -عز وجل - berfirman :

{ ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات و بشر
الصابرين } [ البقرة : ١٥٥ ]

▪️" Dan sungguh kami akan uji kalian dengan sedikit dari rasa ketakutan ,
kelaparan , kekurangan harta dan kematian jiwa serta gagal panen dan
berilah kabar gembira bagi orang- orang yang sabar "
[ Q.S : Al-Baqarah : 155 ] .

▪️ Rasulullah - صلى الله عليه وسلم - bersabda :

(( عجبا لأمر المؤمن ، إن أمره كله خير ، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن ، إن
أصابته سراء شكر فكان خيرا له ، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له ))

▪️ Rasulullah bersabda :
" Betapa menakjubkan perkaranya seorang mukmin , semua perkara nya adalah
baik , tidak lah yang demikian itu didapati setiap orang kecuali hanya
untuk seorang mukmin .

Bila ia mendapatkan kelapangan maka ia bersyukur .

Dan bila ia mendapatkan kesusahan maka ia pun bersabar " .

🎙️Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah - رحمه الله - :

" Barang siapa yang Allah uji dengan takdir yang pahit : Bencana ,
Kesusahan , Penyakit , Sempitnya rezeki , ( ketahuilah ) bahwa itu semua
bukanlah suatu penghinaan untuk nya , melainkan itu adalah ujian dan cobaan
.
Bila ia senantiasa mentaati Allah dalam ujian itu maka ialah orang yang
berbahagia .

Dan bila ia bermaksiat kepada NYA dalam ujian itu maka ialah orang yang
celaka .

Sebagaimana ketaatan dikala musibah itu adalah sebab kebahagiaan bagi para
nabi dan orang-orang beriman maka ujian itu pula adalah kecelakaan dan
sebab celaka bagi orang - orang kafir dan fajir " .
( Qo'idatun fil Mahabbah . Hal : 167 ) .

🌱 Semoga bermanfaat ..
Baarokallahu fiikum .

✍️ Akhukum : Abu Abdillah Syukri - حفظه الله تعالى -

🗓️ Kamis , 08 Sya'ban 1414 / 02 April 2020 .
▪️ Sangatta - Kutim .

🔰 MAJELIS TAKLIM QAULAN SADIIDA SANGATTA 🔰

Selasa, 28 Januari 2020

Sabtu, 18 Januari 2020



بِسْـــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــــــــــــم.

Dengan mengharap taufiq dan ridho Alloh subhanahu wa ta'ala

*📚HADIRILAH KAJIAN ISLAM ILMIYAH AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH KOTA SANGATTA*

*إن شآء الله*

💺Bersama :
*Al - Ustadz ABU HUDZAIFAH YUNUS حفظه الله تعالى*
_[Pengasuh Pondok Pesantren Darus Salaf Bontang, Kalimantan Timur]_
----------------------------
🗓 Ahad, 01 Jumadal Akhirah 1441 H. / 26 Januari 2020
 -----------------------------------
*🎙 Sesi 1:*
🕰Ba'dal ashar Jam 16.30-17.30

Tema:
*"HAK HAK BERTETANGGA"*

🕌Tempat:
Masjid abu hurairoh ma'had ibnu katsir sangatta Kaltim

_[Ikhwah Dan Akhowat]_

*🎙 Sesi 2 :*
🕰Ba'da Maghrib-Waktu Isya

Tema:
*"WAHAI SAUDARAKU, JAUHILAH YANG TIDAK BERMANFAAT BAGIMU"*

🕌Tempat:
Masjid Annur G-house Sangatta baru kaltim

_[Terbuka untk Umum ||Khusus Pria Muslim]_

📡Live Streaming di *RADIO ISLAM SANGATTA*
📲📻 *Applikasi RADIO SYARI'AH*
🌏kajianislamsangatta.blogspot.com

💻 *TIM Tasjilat RAIS (Radio Islam Sangatta)*🖋

☎ Informasi :
0813 5043 8570

*📝 Catatan :*
1⃣ Ajak serta, keluarga, sahabat dan tetangga serta kaum muslimin dan muslimah
2⃣. Diharapkan  kepada seluruh peserta Agar meluruskan niat dalam menghadiri acara Kajian Islam Ilmiyah ini

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

*🖥MTS QOULAN SADIDA Sangatta, Kalimantan Timur

Selasa, 19 November 2019

Rabu, 13 November 2019

Sabtu, 04 Mei 2019

Pembatal-pembatal Puasa

Pembatal-pembatal Puasa

 SILSILAH FIQH

❌❌❌ Apa saja hal-hal yang bisa membatalkan puasa ?

🎙 Dijawab oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -rahimahullah- :

Pembatal-pembatal puasa disebutkan didalam al-qur'an ada 3 perkara : makan, minum, dan jima’. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

{فَالانَ بَشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ} [البقرة: ١٨٧]

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.”  (QS. Al-Baqarah:187)

Yang pertama & kedua yaitu makan dan minum, disini sama saja baik itu makanan yang halal maupun yang haram, makanan yang bermanfaat maupun yang membahayakan, ataupun makanan yang tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan, sama saja sedikit maupun banyak. Oleh karena inilah merokok termasuk pembatal puasa walaupun rokok itu membahayakan dan benda yang haram.

Sampai-sampai para ulama berkata : kalau seandainya ada seseorang menelan manik-manik maka sungguh dia telah batal(puasanya), dalam keadaan manik-manik itu tidaklah memberikan manfaat bagi badan bersamaan dengan itu dia tetap termasuk pembatal puasa. Demikian pula jika seandainya dia memakan adonan  yang dia adon dengan sesuatu yang najis maka sungguh puasa dia telah batal bersamaan dengan itu hal tersebut membahayakan.

Yang ketiga adalah Jima’, ini merupakan yang paling berbahaya dari jenis-jenis pembatal puasa, dikarenakan orang yang melakukannya wajib baginya membayar kaffaroh, dan kaffarohnya adalah membebaskan budak, jika tidak didapati maka wajib bagi dia puasa 2 bulan berturut-turut, dan jika dia tidak mampu maka memberikan makan kepada 60 orang miskin.

Yang keempat adalah mengeluarkan mani dalam rangka berlezat-lezat, maka jika seseorang mengeluarkan mani dengan berlezat-lezat maka batallah puasanya, akantetapi tidak wajib baginya membayar kaffaroh, dikarenakan kaffaroh itu adalah khusus bagi yang melakukan jima’.

Yang kelima adalah suntikan yang dengannya seseorang tercukupi dari makan dan minum, dan dia adalah impus. Adapun jika suntikan selain impus maka hal tersebut tidaklah merusak puasa, sama saja seseorang menyuntik di pembuluh darahnya atau di otot-ototnya, dikarenakan hal tersebut bukanlah makan dan minum, dan bukan pula bermakna makan dan minum.

Yang keenam adalah muntah dengan sengaja, apabila seseorang mundah dengan sengaja maka rusak puasanya, adapun jika muntah tersebut keluar(tanpa sengaja) maka hal ini tidak membatalkan puasanya.

Yang ketujuh adalah keluarnya darah haid atau nifas, apabila seorang perempuan keluar darah haid atau nifas padahal sesaat lagi matahari tenggelam(sebentar lagi buka puasa) maka batal puasanya. Adapaun jika darah nifas atau haid tersebut keluar sesaat saja setelah matahari tenggelam maka sah puasanya.

Yang kedelapan adalah mengeluarkan darah dengan berbekam. Berdasarkan sabda nabi -shallahu ‘alaihi wasallam- : “telah batallah(puasa) orang yang membekam dan yang dibekam”. Maka apabila seseorang berbekam dan keluar darinya darah maka batal puasanya demikian pula batal puasa orang yang membekamnya apabila cara membekamnya seperti yang dikenal pada zaman nabi -shallahu ‘alahi wasallam-, yaitu bahwasannya orang yang membekam tersebut menghisap botol/tanduk tempat darah tersebut(sehingga memungkinkan darah tersebut terminum oleh yang membekam). Adapun jika membekam menggunakan media atau alat yang terpisah dari orang yang membekam(tidak dihisap dengan mulut) maka sesungguhnya yang batal hanya orang yang dibekam, adapun yang membekam tidaklah batal puasanya.

Sehingga apabila pembatal-pembatal puasa ini dilakukan pada siang romadhan oleh orang yang berpuasa maka wajib baginya puasa(qodho’). Dan diapun berhak mendapatkan 4 perkara ini : 1. Dosa, 2. Batal puasanya, 3. Tetap wajib menahan(puasa) pada sisa waktu pada hari tersebut, 4. Wajib mengqodho’ puasanya (mengganti diluar romadhon).

Adapaun jika batal puasa dikarenakan jima’ maka baginya 5 perkara, yang kelimanya adalah membayar kaffaroh.

Akantetapi wajib pula bagi kita untuk mengetahui bahwasannya pembatal-pembatal puasa ini tidaklah membatalkan puasa kecuali terpenuhi padanya 3 syarat : 1. Mengetahui, 2. Ingat(tidak sedang lupa), 3. Keinginan(bukan karena terpaksa).

Maka apabila seseorang yang berpuasa dia melakukan sesuatu dari pembatal-pembatal puasa ini dikarenakan ketidak tahuan maka puasa dia tetap sah, sama saja dia tidak tahu terhadap waktu ataupun tidak tahu terhadap hukumnya.

Contoh ketidak tahuan terhadap waktu adalah seseorang bangun di akhir malam dan dia mengira kalau belum terbit fajar maka dia pun makan dan minum, kemudian setelah itu barulah dia tau kalau fajar telah terbit. Maka yang seperti ini puasanya tetap sah, dikarenakan ketidak tahuannya terhadap waktu.

Adapun contoh ketidak tahuan terhadap hukum adalah seseorang yang berpuasa dia melakukan bekam dalam keadaan dia tidak mengetahui bahwasannya berbekam termasuk salah satu pembatal puasa, maka kita katakan kepadanya puasamu tetap sah. Dalil dari al-quran tentang hal ini adalah firman Allah Ta’ala :

{رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: ٢٨٦]

“Wahai rabb kami janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan”. (QS. Al-Baqarah:286)

Sedangkan dalil dari as-Sunnah adalah hadits Asma’ binti Abi Bakr -radhiyallahu’anhuma- yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhori di dalam kitab shahihnya. Beliau berkata : “Kami pernah berbuka puasa pada hari yang mendung pada zaman Nabi -shallahu ‘alaihi wasallam-, kemudian matahari muncul sehingga berbukanya kami pada siang hari, akantetapi mereka tidak mengetahui(kalau masih siang) bahkan mereka mengira bahwa matahari benar-benar telah terbenam. Dan Nabi -shallahu ‘alaihi wasallam- tidak memerintahkan mereka untuk mengqodho’(mengganti puasa), jikalau pada kejadian tersebut mewajibkan qodho’ niscaya nabi -shallahu ‘alaihi wasallam- pasti memerintahkannya. Dan kalau seandainya nabi -shallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan para sahabat untuk mengqodho’ pasti sudah dinukil kisah tersebut kepada kita semua. Akantetapi kalau seandainya berbuka dikarenakan mengira matahari telah terbenam lalu tampak kembali bahwa matahari belum terbenam maka wajib bagi dia menahan(puasa kembali) sampai matahari benar-benar terbenam, dan puasanya orang ini tetap sah.

Syarat yang kedua adalah dalam keadaan ingat. Dan lawan dari ingat adalah lupa, maka seandainya orang yang berpuasa itu lupa kemudian dia makan atau minum maka puasanya tetap sah, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

{رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: ٢٨٦]

 “Wahai rabb kami janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan”. (QS. Al-Baqarah:286)

Dan sabda nabi -shallahu ‘alaihi wasallam- dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu‘anhu- : “barangsiapa yang lupa dalam keadaan dia berpuasa kemudian dia makan atau minum, maka hendaknya dia tetap menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah hanyalah ingin memberi dia makan dan minum”.

Syarat yang ketiga adalah keinginan, kalau seandainya seseorang yang berpuasa melakukan pembatal-pembatal puasa ini bukan karena keinginannya atau pilihannya maka puasanya tetap sah, walaupun dia berkumur-kumur dan air masuk sampai ke perutnya tanpa keinginannya maka puasanya tetap sah.

Dan seandainya adalah seorang laki-laki memaksa istrinya untuk berjima’ dalam keadaan tidak mungkin bagi sang istri untuk menolaknya, maka puasa sang istri tersebut tetap sah, dikarenakan hal tersebut(jima’) bukan keinginannya(dipaksa), dalil yang demikian adalah firman Allah Ta’ala tentang orang yang kafir karena dipaksa :

{مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ} الآية [النحل: ١٠٦]

 “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)”. (QS. An-Nahl:106)

Maka apabila seseorang yang berpuasa itu dipaksa untuk berbuka atau melakukan salah satu pembatal puasa bukan karena keinginannya, maka tidak ada dosa baginya, dan puasanya tetap sah.

🇮🇩🇸🇦

س: ما هي المفطرات التي تفطر الصائم؟

ج: المفطرات في القرآن ثلاثة: الأكل، الشرب، الجماع، ودليل ذلك قوله تعالى: {فَالانَ بَشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ} [البقرة: ١٨٧] .

فبالنسبة للأكل والشرب سواء كان حلالاً أم حراماً، وسواء كان نافعاً أم ضاراً أو لا نافعاً ولا ضاراً، وسواء كان قليلاً أم كثيراً، وعلى هذا فشُرب الدخان مفطر، ولو كان ضاراً حراماً.

حتى إن العلماء قالوا: لو أن رجلاً بلع خرزة لأفطر. والخرزة لا تنفع البدن ومع ذلك تعتبر من المفطرات. ولو أكل عجيناً عجن بنجس لأفطر مع أنه ضار.

الثالث: الجماع.. وهو أغلظ أنواع المفطرات. لوجوب الكفارة فيه، والكفارة هي عتق رقبة، فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين، فإن لم يستطع فإطعام ستين مسكيناً.

الرابع: إنزال المني بلذة، فإذا أخرجه الإنسان بلذة فسد صومه، ولكن ليس فيه كفارة، لأن الكفارة تكون في الجماع خاصة.

الخامس: الإبر التي يُستغنى بها عن الطعام والشراب، وهي المغذية، أما الإبر غير المغذية فلا تفسد الصيام سواء أخذها الإنسان بالوريد، أو بالعضلات، لأنها ليست أكلاً ولا شرباً ولا بمعنى الأكل والشرب.

السادس: القيء عمداً، فإذا تقيأ الإنسان عمداً فسد صومه، وإن غلبه القيء فليس عليه شيء.

السابع: خروج دم الحيض أو النفاس، فإذا خرج من المرأة دم الحيض أو النفاس ولو قبل الغروب بلحظة فسد الصوم.

وإن خرج دم النفاس أو الحيض بعد الغروب بلحظة واحدة صحَّ صومها.

الثامن: إخراج الدم بالحجامة، لقول الرسول صلى الله عليه وسلّم: «أفطر الحاجم والمحجوم» (١) ، فإذا احتجم الرجل وظهر منه دم فسد صومه، وفسد صوم من حجمه إذا كانت بالطريقة المعروفة في عهد النبي صلى الله عليه وسلّم، وهي أن الحاجم يمص قارورة الدم، أما إذا حجم بواسطة الآلات المنفصلة عن الحاجم، فإن المحجوم يفطر، والحاجم لا يفطر، وإذا وقعت هذه المفطرات في نهار رمضان من صائم يجب عليه الصوم، ترتب على ذلك أربعة أمور: ١ـ الإثم. ٢ـ فساد الصوم. ٣ـ وجوب الإمساك بقية ذلك اليوم. ٤ـ وجوب القضاء.

وإن كان الفطر بالجماع ترتب على ذلك أمر خامس وهو الكفارة.

ولكن يجب أن نعلم أن هذه المفطرات لا تفسد الصوم إلا بشروط ثلاثة:

١ـ العلم. ٢ـ الذِّكر. ٣ـ الإرادة.

فإذا تناول الصائم شيئاً من هذه المفطرات جاهلاً، فصيامه صحيح، سواء كان جاهلاً بالوقت، أو كان جاهلاً بالحكم، مثال الجاهل بالوقت: أن يقوم الرجل في آخر الليل، ويظن أن الفجر لم يطلع، فيأكل ويشرب ويتبيَّن أن الفجر قد طلع، فهذا صومه صحيح؛ لأنه جاهل بالوقت.

ومثال الجاهل بالحكم: أن يحتجم الصائم وهو لا يعلم أن الحجامة مفطرة، فيُقال له صومك صحيح. والدليل على ذلك قوله تعالى: {رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: ٢٨٦] هذا من القرآن.


ومن السنة: حديث أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما الذي رواه البخاري في صحيحه (١) ، قالت: أفطرنا يوم غيم على عهد النبي صلى الله عليه وسلّم، ثم طلعت الشمس فصار إفطارهم في النهار، ولكنهم لا يعلمون بل ظنوا أن الشمس قد غربت ولم يأمرهم النبي صلى الله عليه وسلّم بالقضاء، ولو كان القضاء واجباً لأمرهم به، ولو أمرهم به لنُقل إلينا. ولكن لو أفطر ظانًّا غروب الشمس وظهر أنها لم تغرب وجب عليه الإمساك حتى تغرب وصومه صحيح.

الشرط الثاني: أن يكون ذاكراً، وضد الذكر النسيان، فلو نسي الصائم فأكل أو شرب فصومه صحيح؛ لقوله تعالى: {رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: ٢٨٦] ، وقول النبي صلى الله عليه وسلّم فيما رواه أبوهريرة رضي الله عنه: «مَن نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه» (٢) .

الشرط الثالث: الإرادة، فلو فعل الصائم شيئاً من هذه المفطرات بغير إرادة منه واختيار، فصومه صحيح، ولو أنه تمضمض ونزل الماء إلى بطنه بدون إرادة فصومه صحيح.

ولو أَكْرَه الرجلُ امرأته على الجماع ولم تتمكن من دفعه، فصومها صحيح؛ لأنها غير مريدة، ودليل ذلك قوله تعالى فيمن كفر مكرهاً: {مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ} الآية [النحل: ١٠٦] .

فإذا أُكْرِه الصائم على الفطر أو فعل مفطراً بدون إرادة، فلا شيء عليه وصومه صحيح.

٤٨ سؤالا في الصيام

✍ Grup WA Salafy Sragen

Turut mempublikasikan WA Salafy Sangatta